Soppeng Jadi Pionir Modernisasi Pertanian Nasional
Soppeng, (8/5) – Kabupaten Soppeng, yang dikenal sebagai "Bumi Latemmamala", kini resmi menapakkan kaki di era baru pertanian berbasis teknologi tinggi. Langkah bersejarah ini ditandai dengan Tanam Padi Perdana Program Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) yang dipimpin langsung oleh Bupati Soppeng, Suwardi Haseng bersama Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), Prof. Fadjry Djufry, di Kelurahan Apanang, Jumat (8/5). Kegiatan yang berlangsung di tengah suasana hujan gerimis ini tidak menyurutkan semangat para petani. Sebaliknya, momen ini menjadi simbol "hujan berkah" bagi transformasi sistem pangan di Soppeng yang kini sejajar dengan standar pertanian negara maju.
Hasil Nyata 10,4 ton Per Hektare
Program PM-AAS di Soppeng membawa misi besar untuk melampaui batas produktivitas nasional. Berdasarkan uji coba pada tahun 2025 di Kecamatan Marioriawa, sistem ini terbukti mampu menghasilkan produktivitas hingga 10,4 ton per hektare. Keberhasilan tersebut mendorong perluasan lahan secara signifikan pada tahun 2026. Dari yang sebelumnya hanya 5 hektare, kini luas cakupan PM-AAS di Soppeng melonjak menjadi 120 hektare, yang tersebar di Kecamatan Liliriaja (Kelurahan Apanang) 100 hektare serta Kecamatan Marioriawa 20 hektare.
Sinergi Teknologi Terpadu Dari Drone hingga Alsintan Canggih
Bupati Soppeng menegaskan bahwa PM-AAS merupakan solusi komprehensif atas tantangan keterbatasan tenaga kerja dan biaya produksi yang tinggi. Teknologi masa depan yang kini bekerja di lahan Soppeng meliputi:
-
Mekanisasi Penuh: Pengolahan lahan menggunakan traktor roda empat dan rotavator, serta penanaman dengan sistem jajar legowo yang presisi.
-
Drone Agriculture: Digunakan untuk pemetaan lahan, pemupukan cair, hingga pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) secara efektif.
-
Input Berkualitas: Penggunaan benih unggul bersertifikat (varietas Inpari 48 dan Inpari 32) serta pemupukan berimbang (Urea, NPK, Petroganik, dan Silika).
-
Efisiensi Panen: Penggunaan combine harvester untuk meminimalisir kehilangan hasil (losses) saat panen.
Kemandirian Pangan dan Waspada Benih Ilegal
Dalam sambutannya, Prof. Fadjry Djufry menjelaskan bahwa metode PM-AAS diadaptasi dari praktik terbaik di Arkansas, Amerika Serikat. Namun, beliau juga memberikan catatan penting mengenai keamanan hayati. Petani diimbau untuk hanya menggunakan benih resmi dan menghindari pembelian benih secara online yang tidak jelas asal-usulnya.
"Di Sulawesi Selatan saat ini terdeteksi hama baru yang diduga masuk melalui benih ilegal yang tidak melewati proses karantina. Keamanan produksi nasional bergantung pada kepatuhan kita menggunakan benih yang terdaftar," tegas Prof. Fadjry.
Dukungan Penuh Pemerintah
Sebagai bentuk komitmen nyata, dalam acara tersebut dilakukan penyerahan bantuan secara simbolis berupa:
-
7,5 Ton Benih Padi (Inpari 48 & 32) dari Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian kepada Bupati Soppeng.
-
Bantuan Pupuk Petroganik dari PT Pupuk Indonesia kepada Dinas Pertanian Kabupaten Soppeng.
Bupati Suwardi Haseng menutup kegiatan dengan pesan yang kuat, "Hari ini kita bukan sekadar menanam padi, kita sedang menanam masa depan. Kita ingin dunia melihat bahwa petani Soppeng adalah petani yang siap menghadapi masa depan dan menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia," pungkas Suwardi.
Terima kasih telah membaca artikel kami. Kami ingin mengajak Anda untuk terus menjelajahi dan memperdalam pengetahuan Anda. Temukan berita terbaru dan artikel bermanfaat dengan mengklik tautan berikut "Klik di sini".
Reporter: Muchammad Fatchur Rizza